Rabu, 22 Januari 2014

NEK...



Selamat Ulang Tahun BURAIRA BALQIS FAIHA. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dirimu. AMIN”
Kutemukan secarik kertas yang berisi doa singkat itu, pada salah satu kado yang aku dapatkan tadi malam saat aku tengah merayakan ulang tahunku. Kado yang memang sangat berbeda dari yang lain. Disaat kado-kado yang lain seakan berlomba menampakkan ke cantikan pesona mereka. dengan hiasan yang melekat. Namun, itu tidak berlaku dengan kado yang sangat mengalihkan perhatianku ini. Kado yang hanya ditutupi oleh kertas koran usang, tanpa sedikit saja kesan manis yang melekat pada benda itu seperti kado-kado yang lain.
Ini kado apa sih. Pasti ada yang iseng !” gerutuku
Rasa kesalku dengan kado itu,semakin membuatku semangat untuk mencari tau isi dari bingkisan aneh itu. Bingkisan yang ternyata berisi sesuatu yang jauh lebih ajaib dari penampilannya. Kado aneh itu berisi pernak pernik bayi yang telah usang dan sebuah boneka tua kecil yang jelas terlihat masih terawat dengan baik sampai saat ini. Dihantui rasa was-was.segeraku bereskan kado itu dan kado-kado yang lain.kembali tertata di pojok kamarku. Pikiranku menerawang, aku tidak mengerti apa yang sedang ku rasakan, dibenakku penuh dengan pertanyaan, “Siapa orang yang memberikanku kado itu.”
Non fai, makan malam dulu non, makanannya udah bibi siapin di meja.” teriak bi Oda dari balik pintu. Aku tidak memperdulikannya dan tidak beranjak sedikitpun dari kasurku. Saat ini yang aku pikirkan hanyalah. siapa orang yang memberiku bingkisan aneh itu, hingga suara bi Oda yang terus membujukku untuk makan itu terdengar samar di telinga ku.hingga akhirnya suaranya pun benar-benar hilang. dan aku pun tertidur dengan rasa penasaran yang luar biasa.
***

Pagi ini aku berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya, menjalani pergantian jam demi jam pelajaran hari ini dengan rasa penasaran yang semakin menggunung, saat bel pulang berbunyi pun aku sempat tidak menyadarinya, bergegas aku membereskan buku-buku dan keluar dari kelas . dari kejauhan tampak sesosok gadis manis berambut ikal dengan bandana kuning yang menjadi ciri khasnya,terlihat berusaha mengejarku dengan semangat.
“Faiiiiiiiiii!, kamu mau cerita apa sama aku? Cepet faiii cerita. Jangan pernah bikin seorang Reva Thalia Wiyatna penasaran. Faiiiiiiii!” suara cempreng reva menyadarkanku dari lamunan.
“ Berisik banget sih! Udah ah gajadi!” hardikku padanya
“aah fai kan gitu sama aku, iya deh iya aku gak berisik. Emang kamu kenapa sih ?” ujarnya dengan rasa penasaran dan khawatir yang terlihat jelas di wajahnya
Akupun menceritakan apa yang telah aku alami pada reva,sesekali dia terkaget mendengar bait demi bait ceritaku padanya, dengan seksama dia mendengarkan ceritaku dan menenangkanku ,agar aku tidak usah khawatir dengan orang yang menghadiahiku kado aneh itu.
Samar samar dari kejauhan tampak sepasang mata yang sudah lama mengamati gerak gerik ku, hingga aku  berpisah dengan reva menuju rumah masing-masing, aku pun masih merasa dibuntuti oleh seseorang, ku percepat langkah kakiku hingga aku tiba di rumah dengan cepat dan sosok itupun menghilang bersama terbenamnya senja hari ini.
***

Hari-hari ku kini berbeda dari biasanya, setiap hari seusai sekolah,aku selalu di buntuti oleh sosok yang aku tidak tau siapa, pikiranku semakin penuh dengan misteri. Semenjak aku mendapatkan kado aneh itu, sesosok orang misterius pun selalu membuntutiku. Perasaan takut yang amat sangat pun menghinggapiku setiap saat, rasanya untuk meninggalkan rumah beberapa langkah saja aku sangat takut, takut ada orang yang berniat jahat padaku, hingga selain untuk bersekolah aku enggan untuk meninggalkan rumah.
 Suatu hari sepulang sekolah, seperti biasa kupercepat langkah kakiku menuju rumah, di tengah perjalanan aku melihat seorang nenek tua renta yang terlihat sedang mengusap-usap kaki nya. Tanpa berfikir panjang, aku segera meghampiri nenek itu
“nek, kenapa nek? Kaki nenek kenapa?” kataku sambil berusaha menopang tubuh yang sudah sangat renta itu
ah tidak apa-apa, nenek hanya sedikit pegal berjalan terlalu lama” ujarnya  kaget dan sempat terdiam beberapa saat memandangiku
“nenek mau kemana? biar saya antar nek” balasku dengan terus menopangnya
“tidak usah nak, nenek hanya kelelahan berjalan terlalu lama, jika nenek bisa duduk dan mengistirahatkan kaki ini sebentar, pasti kakinya pulih” dengan senyum yang daritadi selalu mengembang di wajahnya.
aku semakin tidak tega untuk membiarkan nenek ini seorang diri, ku tengok an kepala ku ke kiri dan kanan,hingga aku melihat sebuah kursi di tengah taman yang berada tidak jauh dimana tempat kami berdiri.
“nek, itu ada kursi. Mari kita kesana” dengan semangat aku mengajak nenek itu menuju kursi taman
“iya nak, mari” dengan langkah gontai si nenek berjalan dengan bantuanku
Sesampainya di kursi taman, obrolan demi obrolan pun  kulakukan dengan si nenek, hingga aku lupa dengan sosok yang selalu membuntutiku, sesekali apabila aku ingat akan sosok itu, aku melihat ke sekelilingku, namun tidak ada tanda-tanda dari penguntit misterius itu, akhirnya haripun sudah hampir gelap dan akupun berpisah dengan si nenek, sebelum berpisah, si nenek meminta izin padaku untuk memperbolehkannya selalu menemuiku, nenek itu bilang kalau aku mirip  dengan seseorang yang selalu ingin di temui nya selama ini. Tentu saja aku tidak sampai hati untuk menolaknya, toh nenek ini sepertinya nenek yang baik, walaupun aku baru pertama kali bertemu dengannya, aku sudah merasa dekat dengannya. Entahlah apa ini, yang terpenting bagiku adalah sosok misterius itu hari ini tidak membuntutiku.
***
Seperti biasa, bel pulang sekolah pun berbunyi, aku dan reva segera bergegas untuk pulang bersama, akan tetapi digerbang sekolah kulihat sesosok nenek-nenek yang sedang menunggu seseorang, setelah ku perhatikan baik-baik, ternyata itu adalah nenek yang kutemui kemarin, segera aku mengajak reva untuk menemuinya, dengan muka bingung reva berlari kecil untuk menyesuaikan langkahku yang cepat untuk menemui si nenek.
nek, apa yang nenek lakukan disini?” tanyaku dengan muka khawatir
“akhirnya kamu datang juga, nenek sengaja menunggu disini untuk menemuimu nak, nenek teringat padamu jadi nenek putuskan untuk menunggumu seusai sekolah” jawabnya
“tapi nek, darimana nenek tau aku bersekolah disini?” belum sempat nenek itu menjawab pertanyaanku , reva pun menarik lenganku dan membawaku agak menjauh dari si nenek
“itu siapa sih fai? Sejak kapan kamu jadi pengasuh nenek-nenek?” katanya dengan muka bingung
“aku juga tidak tau dia siapa rev, kemarin aku menolong dia di jalan, dan sebelum kami berpisah dia bilang ingin selalu menemuiku, ya aku tidak bisa menolaknya kan” kataku membela diri
“kamu aneh deh fai” kata reva sambil menggelengkan kepalanya
yasudah yuk kita pulang, daripada nanti makin banyak orang yang bingung sepertimu, melihat ada nenek-nenek di sekolah kita” kutarik tangan reva kembali ke nenek itu
“ayo nek, kita pulang. Oh iya, kenalin nek ini teman saya reva” ujarku memeperkenalkan reva pada si nenek
oh halo nak reva, kamu manis sekali ya” seperti biasa senyum indah itu selalu menghiasi wajah ramah si nenek
Reva yang kaget dengan ulahku, memeperkenalkan dirinya pada si nenek langsung melotot padaku, tapi sesegera mungkin dia tersenyum pada si nenek agar nenek itu tidak melihat ekspresi ketidaksukaannya atas ulahku padanya.
***
Hari demi hari kulalui dengan si nenek, pulang sekolah nenek itu selalu menungguku di gerbang sekolah dan kami pun pulang bersama, apabila kami tiba di taman, kami selalu menyempatkan diri untuk duduk dan mengobrol di kursi taman, tanpa kusadari ternyata sosok misterius itu sudah tidak membuntutiku lagi, hidupku pun kembali riang seperti dulu , tanpa ada rasa takut yang menghinggap di pikiranku, reva pun sekarang sudah bisa mengerti dengan kebiasaan baruku , jadi dia pun sudah terbiasa melihatku dengan si nenek, akan tetapi, ternyata anak-anak di sekolah sudah lama membicarakanku karena keakrabanku dengan si nenek, aku pun tidak pernah memperdulikan hal itu, hingga pada suatu hari teman-teman sekelasku mendatangiku dan mencecarku dengan berbagai macam pertanyaan mengenai si nenek, kata salah satu dari mereka nenek itu adalah nenek-nenek gila yang memang menyukai gadis-gadis abg sepertiku, ada juga yang bilang kalau nenek itu adalah dukun yang ingin mencari korban untuk dijadikan tumbal dan segala isu-isu mengenai nenek itu yang apabila ku ambil kesimpulannya, tidak ada satu hal yang baik dari nenek itu. Sepulang sekolah , seperti biasa si nenek menungguku didepan gerbang sekolah, aku sengaja bersembunyi dan menahan diri untuk tidak pulang sebelum nenek itu pergi, tampak dari kejauhan, nenek itu tetap terus menungguku, dengan sesekali menanyakanku kepada teman-teman yang kebetulan keluar dari gerbang sekolah. Akan tetapi si nenek selalu mendapat jawaban yang sama dari setiap anak yang ia tanyakan, semuanya menggeleng yang menandakan tidak ada satupun yang tahu akan keberadaanku, sampai jam menunjukan pukul 5:23 dan sekolah sudah sangat sepi , akhirnya si nenek pun pergi meninggalkan gerbang sekolahku, kulihat tampak nenek itu mengusap-usap kaki nya, sungguh disitu aku merasa sangat bersalah pada si nenek, aku tahu pasti si nenek merasakan sakit pada kakinya karna lebih dari 2 jam dia berdiri menungguku. akan tetapi aku takut jika apa yang di ceritakan teman-teman sekelas padaku memang benar adanya, dan segera aku pulang dengan perasaan yang sangat kalut saat itu.
***

Satu minggu sudah aku menghindar dari si nenek, dan selama satu minggu itu pula si nenek tanpa lelah menungguku di gerbang sekolah, si nenek terus menunggu,menunggu dan menunggu, dengan kaki rapuhnya ia terus berdiri tanpa menghiraukan keadaan kakinya yang sakit, kadang aku berfikir apa pantas aku melakukan hal ini , melihat seorang nenek-nenek lemah berdiri setiap hari menungguku, berharap bertemu denganku , akan tetapi aku malah bersembunyi dari nya, tak jarang aku ingin keluar dari persembunyianku dan menghampirinya, akan tetapi apabila aku teringat cerita dari teman teman, ku urungkan niatku untuk menghampirinya, rasa takutku mengalahkan rasa simpatiku pada si nenek.
 Esok harinya sepulang sekolah, seperti biasa aku sudah duduk manis di tempat persembunyianku, akan tetapi tidak terlihat tanda-tanda si nenek menungguku di depan gerbang, ku coba menahan diri sebentar untuk bersembunyi, dan benar saja si nenek memang tidak datang. Aku melihat keadaan sekeliling untuk  segera keluar dari tempat persembunyianku , dan dengan langkah cepat aku berlari pulang meninggalkan sekolah.
Semenjak hari itu si nenek sudah tidak pernah lagi menunggu di depan gerbang sekolahku, hingga 1 bulan pun berlalu sosok nenek itu benar-benar telah menghilang, setiap hari aku selalu dihantui rasa bersalah yang amat sangat, hingga akhirnya kuputuskan untuk mencari nenek itu untuk meminta maaf kepadanya.
Hari minggu akupun pergi mencari dimana kiranya nenek itu berada, bermodalkan niat nekat dan sok tahu yang aku punya, kutelusuri tempat-tempat yang pernah aku lalui bersama nenek . Sulit memang untuk menemukan keberadaan nenek itu, ditambah lagi setiap orang yang aku tanyai, tidak ada satupun yang tahu akan nenek itu. Haripun sudah semakin gelap, kuputuskan untuk pulang dengan tangan kosong. Minggu berikutnya kembali aku pergi mencari si nenek, hingga hari semakin terik tak ada satupun informasi yang aku dapatkan, hingga aku berhenti di suatu perkampungan yang sangat asing bagiku, di bawah pohon mangga tua, aku duduk untuk sekedar memulihkan energiku untuk melanjutkan pencarianku menemukan keberadaan si nenek , baru 5 menit aku duduk , seorang bapak-bapak dengan perawakan tegap menghampiriku
neng sedang apa disini?” ujarnya menyapaku dengan ramah
“ah anu pak, sa..saya cuma beristirahat sebentar disini” jawabku tergugup saking kagetnya
“ daritadi bapak liat eneng seperti kebingungan mencari sesuatu? Apa ada yang bisa bapak bantu?” balasnya, yang ternyata bapak ini sudah lama memperhatikanku
begini pak, saya sedang mencari seorang nenek-nenek yang sering berjalan-jalan di komplek sebelah, seperti ini pak” ku tunjukkan fotoku dengan si nenek yang sempat aku ambil saat aku berada di taman bersamanya, saat bapak itu melihat foto yang aku tunjukkan, bapak itu langsung kaget dan terdiam, sesekali ia memandang ke arahku dan kembali meyakinkan dirinya ke foto itu untuk membenarkan apa yang saat ini telah dilihatnya
“aduh neng, maaf sebelumnya. Neng ini apanya nenek ini ya?” ujarnya dengan raut wajah yang sangat sulit kuartikan
“bukan siapa-siapanya kok pak, saya hanya pernah menolong nenek ini di jalanan saat kakinya sakit” jawabku padanya
“mari neng ikut saya” kata bapak itu sambil berlalu, tanpa fikir panjang kuturuti saja perkataanya, rumah demi rumah kami lalui, sepanjang jalan kepalaku penuh dengan tanda tanya, aku bingung , apa sebenarnya yang ingin bapak ini tunjukkan padaku, hingga pada akhirnya bapak ini berhenti di depan sebuah rumah tua yang sepi, rumah ini agak terpisah dari rumah-rumah lainnya, sebenarnya aku sangat takut karna bapak ini membawaku ke suatu rumah yang  sedikit berbeda dari rumah lainnya, kuusahakan posisiku berdiri dengan si bapak agak jauh, agar apabila ia akan berbuat jahat padaku aku dapat cepat berlari menghindarinya, setelah lama tidak ada sepatah kata yang keluar dari kami berdua sepanjang perjalanan tadi , akhirnya si bapak membuka pembicaraan.
“ini rumah nenek aliya, mari neng kita masuk” kata si bapak dengan seyumnya yang ramah, saat bapak itu menyebutkan nama nenek aliya, kakiku langsung bergetar hebat, susah bagiku untuk melangkahkan kakiku,perasaanku berkecamuk dibuatnya,  dengan perlahan aku masuk ke rumah itu, saat pintu terbuka mataku langsung terasa berat, air mata ku rasanya sudah memberontak untuk keluar dari mata ini setelah aku melihat foto-foto yang tersusun rapi di dinding rumah nenek aliya, ku cermati semua foto itu satu persatu, foto seorang wanita cantik yang jelas terlihat berumur 60an tengah menggendong dan bermain bersama seorang bayi perempuan, air mata yang dari tadi kutahan tak mampu lagi untuk kubendung, aku menangis memeluk salah satu dari foto-foto itu.
Tanpa berfikir panjang, aku segera berlari ke sebuah ruangan, dan benar saja, ruangan yang tidak pernah berubah dari dulu. Aku terjatuh tepat di tengah ruangan dan menangis sejadi-jadinya , dengan diiringi tangisku, aku bangkit dan  berjalan menuju sebuah figura  yang sangat besar di ujung ruangan, ku geser figura itu dan akhirnya , kutemukan semua jawaban atas semua keanehan-keanehan yang telah aku alami selama ini, yang membuatku sulit untuk mempercayai hidupku.

 

3 Tahun di SMAN 50 JAKARTA



Waktu sungguh sangat cepat berlalu, tak terasa waktu 3 tahun menimba ilmu di Sekolah Menengah Atas akan segera di tuntaskan, selama 3 tahun tentu sudah sangat banyak memori-memori yang sudah tercatat di buku kehidupan masing-masing orang. Begitu pula saya, telah banyak pengalaman-pengalaman baru yang saya dapatkan selama hampir 3 tahun saya bersekolah di SMAN 50 Jakarta tercinta ini.
Semua itu berawal saat saya akan mendaftar untuk menjadi siswa di SMAN 50 JAKARTA, sekolah yang saya tidak pernah ketahui sebelumya.
Pertama kali saya menginjakkan kaki di SMAN 50 Jakarta, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan menjadi salah satu siswa di sekolah yang menurut saya cukup besar ini, setelah saya hampir resmi menjadi siswa di SMAN 50 jakarta, terlebih dahulu saya harus melalui tahap pengenalan awal yang biasa disebut dengan MOS atau istilah baru nya adalah MOPDB. Disinilah saya pertama kali berkumpul dengan sesama calon siswa SMAN 50 Jakarta seangkatan. Awalnya saya merasa sangat canggung untuk menyatu dengan teman-teman yang lain, maklumlah saya adalah calon siswa yang berasal dari daerah, pakaian yang saya kenakan pun berbeda dari teman-teman yang lain sehingga mengundang berpasang-pasang mata untuk memperhatikan saya…
Kelas pertama saya adalah kelas 10-1 disinilah awal saya menemukan sahabat-sahabat saya seperti puspa,dian,pungky,aike,yasmine dan wirda…. Banyak hal yang kami lalui bersama dalam beradaptasi dengan dunia SMA, dan satu kenangan yang paling saya ingat adalah saat itu jam pelajaran agama islam dengan gurunya pada saat itu masih ibu Warnimah, seperti biasa setiap minggu kita harus menyetor hafalan al-qur’an padanya. banyak sekali teman-teman yang setorannya belum di setor, sehingga bu warnimah membacakan siapa saja yang masih belum, diantara nama itu ada nama saya, sontak saya langsung kaget, karena saya tidak pernah merasa bahwa ada setoran hafalan yang saya belum di setor, karena setiap minggu saya rajin menyetor hafalan . saya segera protes ke bu warnimah, akan tetapi bukannya diberi pencerahan saya malah di marahi olehnya dan disuruh mengulang hafalan lagi, disitu saya langsung menangis, bukannya apa-apa karena sialnya hafalan  itu adalah ayat terpanjang yang pernah saya hafalkan, jika disuruh mengingat lagi saya sudah lupa, saat saya menangis puspa,yasmine dan aike berusaha menghibur saya, dan dengan keberanian dan ide gila mereka puspa dan yasmine maju menghadap bu warnimah untuk berpura-pura menjadi saya untuk setoran surat itu mereka membagi-bagi tugas, puspa yang membaca ayat nya dan yasmine yang membaca artinya, ada rasa haru di hati saya saat melihat mereka seperti itu, rasa haru dan bangga punya sahabat seperti mereka. saat puspa telah selesai membaca ayatnya segera puspapun berganti menjadi yasmine yang langsung membuat bu warnimah bingung, saat yasmine selesai membaca artinya, bu warnimah menanyakan nama untuk memasukkan nilai, segeralah yasmine menjawab “Baiq Sega Vanessa Agnes bu…” lalu bu warnimah bertanya lagi “siapa namamu?” dengan polosnya si yasmine menjawab “putri yasmine bu” dan penyamaran saat itu langsung terbongkar, dan langsung bu warnimah memarahi kami karna kami tidak jujur padanya, ditengah-tengah tangisan saya, saya tertawa melihat kepolosan yasmine pada saat itu, ini adalah salah satu kenangan di kelas 10 yang tidak akan saya lupakan.
Waktu pun terus berlalu, tak terasa saya naik ke kelas 11 dan mendapat jurusan ipa, teman-teman barupun kembali saya dapatkan salah satunya adalah ajeng, hanya dian dan aike yang masih satu kelas dengan saya, agak sedih memang kami harus terpisah dengan yang lain saya,dian dan aike di kelas 11 ipa 1 sedangkan puspa,yasmine dan wirda di kelas 11 ipa 3. Hari-hari dikelas 11 saya lalui dengan langkah berat, yang saya bisa hanya mengeluh setiap hari karena saya tidak menikmati hari-hari yang saya lalui, teman-teman saya pun hanya sebatas dian,aike dan ajeng, banyak hal yang saya lalui bersama mereka, salah satunya membuat tugas seni budaya membuat gips vas bunga dirumah ajeng, karena kami berempat semuanya perempuan jadi untuk membuat pola dan segala macamnya bagi kami sangat susah, dari mulai pergi ke tukang gips, mencari-cari tukang kayu untuk meminta kayu, dan mencari-cari tukang kaca untuk meminta kaca yang sudah tak terpakai, semuanya kami kerjakan sendiri dari memotong kayu hingga memecahkan kaca untuk bahan tugas kami, vas itu kami kerjakan dari pagi sampai malam dengan tangan kososng kami membentuk adonan gips dengan hasil bentuknya yang entah berbentuk apa, kami sedikit kecewa karna hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, belum lagi gangguan-gangguan yang ada seperti hujan,adonan gipsnya jatuh dll. Hari itu kami putuskan untuk pulang, besoknya saat kami akan mengerjakannya lagi rencananya tinggal kami warnai yang kami dapatkan adalah vas kami retak-retak dan terkikis, sontak kami langsung panic dan berusaha memperbaiki sebisanya, oleh karena itu kecacatan di vas yang kami buat pun semakin bertambah, kami tak tau harus bagaimana lalu ayahnya dian akhirnya membantu kami untuk membuat pondasi vas itu terlebih dahulu sehingga kami hanya perlu menempelkan adonan gips pada pondasi yang sudah ada, pekerjaan pun kami ulang dari nol, mulai dari membuat adonan gips hingga menghias dengan kaca, walaupun hasilnya tidak sebagus yang diharapkan tapi kami puas karna pada saat kami mengumpulkan vas kamilah yang ukurannya paling besar.
Dan waktu yang di tunggu pun tiba, saya naik ke kelas 12 tepatnya 12 ipa 3 saya hanya sekelas dengan ajeng dan berpisah dengan dian dan aike, teman-teman di kelas 12 ini adalah teman sekelas yang paling terbaik dari kelas-kelas saya sebelumnya, kelas yang kompak,memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi, selalu saling membantu satu sama lain, tidak ada perkubuan sehingga semuanya membaur dll, semua hal selalu saya lakukan bersama ajeng, sedih,susah,senang,menangis kami lakukan bersama. Saat ini kami sedang focus pada tujuan utama kami yaitu untuk menempuh ujian nasional yang akan dilaksanakan pada bulan april, kami bahu membahu untuk saling membantu agar kami semua bisa lulus 100%. Saya ingin sekali cepat-cepat melaksanakan ujian nasional akan tetapi saya masih belum ingin berpisah dengan sahabat-sahabat saya. Karena mungkin kami tidak akan bertemu lagi setelah ini. Sudah banyak sekali kenangan yang saya torehkan di SMAN 50 Jakarta ini, dan di bulan-bulan terakhir saya menjadi siswa di SMAN 50 Jakarta ini yang saya harapkan adalah semoga kami semua kelas 12 50’14 bisa lulus 100% dengan nilai yang memuaskan, dan SMAN 50 selalu menjadi bagian dari hidup kita nanti. 

SMA 50….
almamater tercinta,disini ku belajar, membangun jatidiri
Berbekal iman didada, amalkan pancasila
Disiplin diri, kewajibanku , tak keluh kesah,tak kenal lelah
menuntut ilmu, hari demi hari……
bersaing dalam mutu,santun dalam prilaku
asa ku gemilang, dihari nanti
                                                                       
           
                                                                                                                                                                                                                                                Jakarta, 22 January 2014 jam 22:58
                                                                    Baiq Sega Vanessa Agnes