Rabu, 22 Januari 2014

3 Tahun di SMAN 50 JAKARTA



Waktu sungguh sangat cepat berlalu, tak terasa waktu 3 tahun menimba ilmu di Sekolah Menengah Atas akan segera di tuntaskan, selama 3 tahun tentu sudah sangat banyak memori-memori yang sudah tercatat di buku kehidupan masing-masing orang. Begitu pula saya, telah banyak pengalaman-pengalaman baru yang saya dapatkan selama hampir 3 tahun saya bersekolah di SMAN 50 Jakarta tercinta ini.
Semua itu berawal saat saya akan mendaftar untuk menjadi siswa di SMAN 50 JAKARTA, sekolah yang saya tidak pernah ketahui sebelumya.
Pertama kali saya menginjakkan kaki di SMAN 50 Jakarta, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan menjadi salah satu siswa di sekolah yang menurut saya cukup besar ini, setelah saya hampir resmi menjadi siswa di SMAN 50 jakarta, terlebih dahulu saya harus melalui tahap pengenalan awal yang biasa disebut dengan MOS atau istilah baru nya adalah MOPDB. Disinilah saya pertama kali berkumpul dengan sesama calon siswa SMAN 50 Jakarta seangkatan. Awalnya saya merasa sangat canggung untuk menyatu dengan teman-teman yang lain, maklumlah saya adalah calon siswa yang berasal dari daerah, pakaian yang saya kenakan pun berbeda dari teman-teman yang lain sehingga mengundang berpasang-pasang mata untuk memperhatikan saya…
Kelas pertama saya adalah kelas 10-1 disinilah awal saya menemukan sahabat-sahabat saya seperti puspa,dian,pungky,aike,yasmine dan wirda…. Banyak hal yang kami lalui bersama dalam beradaptasi dengan dunia SMA, dan satu kenangan yang paling saya ingat adalah saat itu jam pelajaran agama islam dengan gurunya pada saat itu masih ibu Warnimah, seperti biasa setiap minggu kita harus menyetor hafalan al-qur’an padanya. banyak sekali teman-teman yang setorannya belum di setor, sehingga bu warnimah membacakan siapa saja yang masih belum, diantara nama itu ada nama saya, sontak saya langsung kaget, karena saya tidak pernah merasa bahwa ada setoran hafalan yang saya belum di setor, karena setiap minggu saya rajin menyetor hafalan . saya segera protes ke bu warnimah, akan tetapi bukannya diberi pencerahan saya malah di marahi olehnya dan disuruh mengulang hafalan lagi, disitu saya langsung menangis, bukannya apa-apa karena sialnya hafalan  itu adalah ayat terpanjang yang pernah saya hafalkan, jika disuruh mengingat lagi saya sudah lupa, saat saya menangis puspa,yasmine dan aike berusaha menghibur saya, dan dengan keberanian dan ide gila mereka puspa dan yasmine maju menghadap bu warnimah untuk berpura-pura menjadi saya untuk setoran surat itu mereka membagi-bagi tugas, puspa yang membaca ayat nya dan yasmine yang membaca artinya, ada rasa haru di hati saya saat melihat mereka seperti itu, rasa haru dan bangga punya sahabat seperti mereka. saat puspa telah selesai membaca ayatnya segera puspapun berganti menjadi yasmine yang langsung membuat bu warnimah bingung, saat yasmine selesai membaca artinya, bu warnimah menanyakan nama untuk memasukkan nilai, segeralah yasmine menjawab “Baiq Sega Vanessa Agnes bu…” lalu bu warnimah bertanya lagi “siapa namamu?” dengan polosnya si yasmine menjawab “putri yasmine bu” dan penyamaran saat itu langsung terbongkar, dan langsung bu warnimah memarahi kami karna kami tidak jujur padanya, ditengah-tengah tangisan saya, saya tertawa melihat kepolosan yasmine pada saat itu, ini adalah salah satu kenangan di kelas 10 yang tidak akan saya lupakan.
Waktu pun terus berlalu, tak terasa saya naik ke kelas 11 dan mendapat jurusan ipa, teman-teman barupun kembali saya dapatkan salah satunya adalah ajeng, hanya dian dan aike yang masih satu kelas dengan saya, agak sedih memang kami harus terpisah dengan yang lain saya,dian dan aike di kelas 11 ipa 1 sedangkan puspa,yasmine dan wirda di kelas 11 ipa 3. Hari-hari dikelas 11 saya lalui dengan langkah berat, yang saya bisa hanya mengeluh setiap hari karena saya tidak menikmati hari-hari yang saya lalui, teman-teman saya pun hanya sebatas dian,aike dan ajeng, banyak hal yang saya lalui bersama mereka, salah satunya membuat tugas seni budaya membuat gips vas bunga dirumah ajeng, karena kami berempat semuanya perempuan jadi untuk membuat pola dan segala macamnya bagi kami sangat susah, dari mulai pergi ke tukang gips, mencari-cari tukang kayu untuk meminta kayu, dan mencari-cari tukang kaca untuk meminta kaca yang sudah tak terpakai, semuanya kami kerjakan sendiri dari memotong kayu hingga memecahkan kaca untuk bahan tugas kami, vas itu kami kerjakan dari pagi sampai malam dengan tangan kososng kami membentuk adonan gips dengan hasil bentuknya yang entah berbentuk apa, kami sedikit kecewa karna hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, belum lagi gangguan-gangguan yang ada seperti hujan,adonan gipsnya jatuh dll. Hari itu kami putuskan untuk pulang, besoknya saat kami akan mengerjakannya lagi rencananya tinggal kami warnai yang kami dapatkan adalah vas kami retak-retak dan terkikis, sontak kami langsung panic dan berusaha memperbaiki sebisanya, oleh karena itu kecacatan di vas yang kami buat pun semakin bertambah, kami tak tau harus bagaimana lalu ayahnya dian akhirnya membantu kami untuk membuat pondasi vas itu terlebih dahulu sehingga kami hanya perlu menempelkan adonan gips pada pondasi yang sudah ada, pekerjaan pun kami ulang dari nol, mulai dari membuat adonan gips hingga menghias dengan kaca, walaupun hasilnya tidak sebagus yang diharapkan tapi kami puas karna pada saat kami mengumpulkan vas kamilah yang ukurannya paling besar.
Dan waktu yang di tunggu pun tiba, saya naik ke kelas 12 tepatnya 12 ipa 3 saya hanya sekelas dengan ajeng dan berpisah dengan dian dan aike, teman-teman di kelas 12 ini adalah teman sekelas yang paling terbaik dari kelas-kelas saya sebelumnya, kelas yang kompak,memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi, selalu saling membantu satu sama lain, tidak ada perkubuan sehingga semuanya membaur dll, semua hal selalu saya lakukan bersama ajeng, sedih,susah,senang,menangis kami lakukan bersama. Saat ini kami sedang focus pada tujuan utama kami yaitu untuk menempuh ujian nasional yang akan dilaksanakan pada bulan april, kami bahu membahu untuk saling membantu agar kami semua bisa lulus 100%. Saya ingin sekali cepat-cepat melaksanakan ujian nasional akan tetapi saya masih belum ingin berpisah dengan sahabat-sahabat saya. Karena mungkin kami tidak akan bertemu lagi setelah ini. Sudah banyak sekali kenangan yang saya torehkan di SMAN 50 Jakarta ini, dan di bulan-bulan terakhir saya menjadi siswa di SMAN 50 Jakarta ini yang saya harapkan adalah semoga kami semua kelas 12 50’14 bisa lulus 100% dengan nilai yang memuaskan, dan SMAN 50 selalu menjadi bagian dari hidup kita nanti. 

SMA 50….
almamater tercinta,disini ku belajar, membangun jatidiri
Berbekal iman didada, amalkan pancasila
Disiplin diri, kewajibanku , tak keluh kesah,tak kenal lelah
menuntut ilmu, hari demi hari……
bersaing dalam mutu,santun dalam prilaku
asa ku gemilang, dihari nanti
                                                                       
           
                                                                                                                                                                                                                                                Jakarta, 22 January 2014 jam 22:58
                                                                    Baiq Sega Vanessa Agnes

Tidak ada komentar:

Posting Komentar