”Selamat
Ulang Tahun BURAIRA BALQIS FAIHA. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi
dirimu. AMIN”
Kutemukan secarik kertas yang berisi doa singkat itu,
pada salah satu kado yang aku dapatkan tadi malam saat aku tengah merayakan
ulang tahunku. Kado yang memang sangat berbeda dari yang lain. Disaat kado-kado
yang lain seakan berlomba menampakkan ke cantikan pesona mereka. dengan hiasan
yang melekat. Namun, itu tidak berlaku dengan kado yang sangat mengalihkan
perhatianku ini. Kado yang hanya ditutupi oleh kertas koran usang, tanpa
sedikit saja kesan manis yang melekat pada benda itu seperti kado-kado yang
lain.
“Ini kado apa sih. Pasti ada yang iseng !”
gerutuku
Rasa kesalku dengan kado itu,semakin membuatku semangat
untuk mencari tau isi dari bingkisan aneh itu. Bingkisan yang ternyata berisi
sesuatu yang jauh lebih ajaib dari penampilannya. Kado aneh itu berisi pernak
pernik bayi yang telah usang dan sebuah boneka tua kecil yang jelas terlihat
masih terawat dengan baik sampai saat ini. Dihantui rasa was-was.segeraku
bereskan kado itu dan kado-kado yang lain.kembali tertata di pojok kamarku.
Pikiranku menerawang, aku tidak mengerti apa yang sedang ku rasakan, dibenakku
penuh dengan pertanyaan, “Siapa orang yang memberikanku kado itu.”
“Non fai, makan malam dulu non, makanannya udah bibi siapin
di meja.” teriak bi Oda dari balik pintu. Aku tidak memperdulikannya dan tidak
beranjak sedikitpun dari kasurku. Saat ini yang aku pikirkan hanyalah. siapa
orang yang memberiku bingkisan aneh itu, hingga suara bi Oda yang terus
membujukku untuk makan itu terdengar samar di telinga ku.hingga
akhirnya suaranya pun benar-benar hilang. dan aku pun tertidur dengan
rasa penasaran yang luar biasa.
***
Pagi ini aku berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya,
menjalani pergantian jam demi jam pelajaran hari ini dengan rasa penasaran yang
semakin menggunung, saat bel pulang berbunyi pun aku sempat tidak menyadarinya,
bergegas aku membereskan buku-buku dan keluar dari kelas . dari kejauhan tampak
sesosok gadis manis berambut ikal dengan bandana kuning yang menjadi ciri
khasnya,terlihat berusaha mengejarku dengan semangat.
“Faiiiiiiiiii!, kamu mau cerita apa sama aku? Cepet faiii
cerita. Jangan pernah bikin seorang Reva Thalia Wiyatna penasaran. Faiiiiiiii!”
suara cempreng reva menyadarkanku dari lamunan.
“
Berisik banget sih! Udah ah gajadi!”
hardikku padanya
“aah fai kan gitu sama aku, iya deh iya aku gak berisik. Emang
kamu kenapa sih ?” ujarnya dengan rasa penasaran dan khawatir yang terlihat
jelas di wajahnya
Akupun menceritakan apa yang telah aku alami pada reva,sesekali dia
terkaget mendengar bait demi bait ceritaku padanya, dengan seksama dia
mendengarkan ceritaku dan menenangkanku ,agar aku tidak usah khawatir dengan
orang yang menghadiahiku kado aneh itu.
Samar samar dari kejauhan tampak sepasang mata yang sudah lama mengamati
gerak gerik ku, hingga aku berpisah dengan
reva menuju rumah masing-masing, aku pun masih merasa dibuntuti oleh seseorang,
ku percepat langkah kakiku hingga aku tiba di rumah dengan cepat dan sosok
itupun menghilang bersama terbenamnya senja hari ini.
***
Hari-hari ku kini berbeda dari biasanya, setiap hari
seusai sekolah,aku selalu di buntuti oleh sosok yang aku tidak tau siapa,
pikiranku semakin penuh dengan misteri. Semenjak aku mendapatkan kado aneh itu,
sesosok orang misterius pun selalu membuntutiku. Perasaan takut yang amat
sangat pun menghinggapiku setiap saat, rasanya untuk meninggalkan rumah
beberapa langkah saja aku sangat takut, takut ada orang yang berniat jahat
padaku, hingga selain untuk bersekolah aku enggan untuk meninggalkan rumah.
Suatu hari sepulang sekolah, seperti
biasa kupercepat langkah kakiku menuju rumah, di tengah perjalanan aku melihat
seorang nenek tua renta yang terlihat sedang mengusap-usap kaki nya. Tanpa
berfikir panjang, aku segera meghampiri nenek itu
“nek, kenapa nek? Kaki nenek kenapa?” kataku sambil
berusaha menopang tubuh yang sudah sangat renta itu
ah tidak apa-apa, nenek hanya sedikit pegal berjalan
terlalu lama” ujarnya kaget dan sempat
terdiam beberapa saat memandangiku
“nenek
mau kemana? biar saya antar nek” balasku dengan terus menopangnya
“tidak usah nak, nenek hanya kelelahan berjalan terlalu
lama, jika nenek bisa duduk dan mengistirahatkan kaki ini sebentar, pasti
kakinya pulih” dengan senyum yang daritadi selalu mengembang di wajahnya.
aku semakin tidak tega untuk membiarkan nenek ini seorang diri, ku tengok
an kepala ku ke kiri dan kanan,hingga aku melihat sebuah kursi di tengah taman
yang berada tidak jauh dimana tempat kami berdiri.
“nek, itu ada kursi. Mari kita kesana” dengan semangat
aku mengajak nenek itu menuju kursi taman
“iya nak, mari” dengan langkah gontai si nenek berjalan
dengan bantuanku
Sesampainya di kursi taman, obrolan demi obrolan pun kulakukan dengan si nenek, hingga aku lupa
dengan sosok yang selalu membuntutiku, sesekali apabila aku ingat akan sosok
itu, aku melihat ke sekelilingku, namun tidak ada tanda-tanda dari penguntit
misterius itu, akhirnya haripun sudah hampir gelap dan akupun berpisah dengan
si nenek, sebelum berpisah, si nenek meminta izin padaku untuk memperbolehkannya
selalu menemuiku, nenek itu bilang kalau aku mirip dengan seseorang yang selalu ingin di temui
nya selama ini. Tentu saja aku tidak sampai hati untuk menolaknya, toh nenek
ini sepertinya nenek yang baik, walaupun aku baru pertama kali bertemu dengannya,
aku sudah merasa dekat dengannya. Entahlah apa ini, yang
terpenting bagiku adalah sosok misterius itu hari ini tidak membuntutiku.
***
Seperti biasa, bel pulang sekolah pun berbunyi, aku dan
reva segera bergegas untuk pulang bersama, akan tetapi digerbang sekolah
kulihat sesosok nenek-nenek yang sedang menunggu seseorang, setelah ku perhatikan
baik-baik, ternyata itu adalah nenek yang kutemui kemarin, segera aku mengajak
reva untuk menemuinya, dengan muka bingung reva berlari kecil untuk
menyesuaikan langkahku yang cepat untuk menemui si nenek.
nek, apa yang nenek lakukan disini?” tanyaku dengan muka
khawatir
“akhirnya kamu datang juga, nenek sengaja menunggu disini
untuk menemuimu nak, nenek teringat padamu jadi nenek putuskan untuk menunggumu
seusai sekolah” jawabnya
“tapi nek, darimana nenek tau aku bersekolah disini?”
belum sempat nenek itu menjawab pertanyaanku , reva pun menarik lenganku dan
membawaku agak menjauh dari si nenek
“itu siapa sih fai? Sejak kapan kamu jadi pengasuh
nenek-nenek?” katanya dengan muka bingung
“aku juga tidak tau dia siapa rev, kemarin aku menolong
dia di jalan, dan sebelum kami berpisah dia bilang ingin selalu menemuiku, ya
aku tidak bisa menolaknya kan” kataku membela diri
“kamu
aneh deh fai” kata reva sambil menggelengkan kepalanya
yasudah yuk kita pulang, daripada nanti makin banyak
orang yang bingung sepertimu, melihat ada nenek-nenek di sekolah kita” kutarik
tangan reva kembali ke nenek itu
“ayo nek, kita pulang. Oh iya, kenalin nek ini teman saya
reva” ujarku memeperkenalkan reva pada si nenek
oh halo nak reva, kamu manis sekali ya” seperti biasa
senyum indah itu selalu menghiasi wajah ramah si nenek
Reva yang kaget dengan ulahku, memeperkenalkan dirinya pada si nenek
langsung melotot padaku, tapi sesegera mungkin dia tersenyum pada si nenek agar
nenek itu tidak melihat ekspresi ketidaksukaannya atas ulahku padanya.
***
Hari demi hari kulalui dengan si nenek, pulang sekolah
nenek itu selalu menungguku di gerbang sekolah dan kami pun pulang bersama,
apabila kami tiba di taman, kami selalu menyempatkan diri untuk duduk dan
mengobrol di kursi taman, tanpa kusadari ternyata sosok misterius itu sudah
tidak membuntutiku lagi, hidupku pun kembali riang seperti dulu , tanpa ada
rasa takut yang menghinggap di pikiranku, reva pun sekarang sudah bisa mengerti
dengan kebiasaan baruku , jadi dia pun sudah terbiasa melihatku dengan si
nenek, akan tetapi, ternyata anak-anak di sekolah sudah lama membicarakanku karena
keakrabanku dengan si nenek, aku pun tidak pernah memperdulikan hal itu, hingga
pada suatu hari teman-teman sekelasku mendatangiku dan mencecarku dengan
berbagai macam pertanyaan mengenai si nenek, kata salah satu dari mereka nenek
itu adalah nenek-nenek gila yang memang menyukai gadis-gadis abg sepertiku, ada
juga yang bilang kalau nenek itu adalah dukun yang ingin mencari korban untuk
dijadikan tumbal dan segala isu-isu mengenai nenek itu yang apabila ku ambil
kesimpulannya, tidak ada satu hal yang baik dari nenek itu. Sepulang sekolah , seperti
biasa si nenek menungguku didepan gerbang sekolah, aku sengaja bersembunyi dan
menahan diri untuk tidak pulang sebelum nenek itu pergi, tampak dari kejauhan,
nenek itu tetap terus menungguku, dengan sesekali menanyakanku kepada
teman-teman yang kebetulan keluar dari gerbang sekolah. Akan tetapi si nenek
selalu mendapat jawaban yang sama dari setiap anak yang ia tanyakan, semuanya
menggeleng yang menandakan tidak ada satupun yang tahu akan keberadaanku,
sampai jam menunjukan pukul 5:23 dan sekolah sudah sangat sepi , akhirnya si
nenek pun pergi meninggalkan gerbang sekolahku, kulihat tampak nenek itu
mengusap-usap kaki nya, sungguh disitu aku merasa sangat bersalah pada si
nenek, aku tahu pasti si nenek merasakan sakit pada kakinya karna lebih dari 2
jam dia berdiri menungguku. akan tetapi aku takut jika apa yang di ceritakan
teman-teman sekelas padaku memang benar adanya, dan segera aku pulang dengan
perasaan yang sangat kalut saat itu.
***
Satu minggu sudah aku menghindar dari si nenek, dan
selama satu minggu itu pula si nenek tanpa lelah menungguku di gerbang sekolah,
si nenek terus menunggu,menunggu dan menunggu, dengan kaki rapuhnya ia terus
berdiri tanpa menghiraukan keadaan kakinya yang sakit, kadang aku berfikir apa
pantas aku melakukan hal ini , melihat seorang nenek-nenek lemah berdiri setiap
hari menungguku, berharap bertemu denganku , akan tetapi aku malah bersembunyi
dari nya, tak jarang aku ingin keluar dari persembunyianku dan menghampirinya,
akan tetapi apabila aku teringat cerita dari teman teman, ku urungkan niatku
untuk menghampirinya, rasa takutku mengalahkan rasa simpatiku pada si nenek.
Esok harinya
sepulang sekolah, seperti biasa aku sudah duduk manis di tempat
persembunyianku, akan tetapi tidak terlihat tanda-tanda si nenek menungguku di
depan gerbang, ku coba menahan diri sebentar untuk bersembunyi, dan benar saja
si nenek memang tidak datang. Aku melihat keadaan sekeliling untuk segera keluar dari tempat persembunyianku , dan
dengan langkah cepat aku berlari pulang meninggalkan sekolah.
Semenjak hari itu si nenek sudah tidak pernah lagi
menunggu di depan gerbang sekolahku, hingga 1 bulan pun berlalu sosok nenek itu
benar-benar telah menghilang, setiap hari aku selalu dihantui rasa bersalah
yang amat sangat, hingga akhirnya kuputuskan untuk mencari nenek itu untuk
meminta maaf kepadanya.
Hari minggu akupun pergi mencari dimana kiranya nenek itu
berada, bermodalkan niat nekat dan sok tahu yang aku punya, kutelusuri
tempat-tempat yang pernah aku lalui bersama nenek . Sulit memang untuk
menemukan keberadaan nenek itu, ditambah lagi setiap orang yang aku tanyai,
tidak ada satupun yang tahu akan nenek itu. Haripun sudah semakin
gelap, kuputuskan untuk pulang dengan tangan kosong. Minggu berikutnya kembali
aku pergi mencari si nenek, hingga hari semakin terik tak ada satupun informasi
yang aku dapatkan, hingga aku berhenti di suatu perkampungan yang sangat asing
bagiku, di bawah pohon mangga tua, aku duduk untuk sekedar memulihkan energiku
untuk melanjutkan pencarianku menemukan keberadaan si nenek , baru 5 menit aku
duduk , seorang
bapak-bapak dengan perawakan tegap menghampiriku
neng
sedang apa disini?” ujarnya menyapaku dengan ramah
“ah anu pak, sa..saya cuma beristirahat sebentar disini”
jawabku tergugup saking kagetnya
“ daritadi bapak liat eneng seperti kebingungan mencari
sesuatu? Apa ada yang bisa bapak bantu?” balasnya, yang ternyata bapak ini
sudah lama memperhatikanku
begini pak, saya sedang mencari seorang nenek-nenek yang
sering berjalan-jalan di komplek sebelah, seperti ini pak” ku tunjukkan fotoku
dengan si nenek yang sempat aku ambil saat aku berada di taman bersamanya, saat
bapak itu melihat foto yang aku tunjukkan, bapak itu langsung kaget dan
terdiam, sesekali ia memandang ke arahku dan kembali meyakinkan dirinya ke foto
itu untuk membenarkan apa yang saat ini telah dilihatnya
“aduh neng, maaf sebelumnya. Neng ini apanya nenek ini
ya?” ujarnya dengan raut wajah yang sangat sulit kuartikan
“bukan siapa-siapanya kok pak, saya hanya pernah menolong
nenek ini di jalanan saat kakinya sakit” jawabku padanya
“mari neng ikut saya” kata bapak itu sambil berlalu,
tanpa fikir panjang kuturuti saja perkataanya, rumah demi rumah kami lalui,
sepanjang jalan kepalaku penuh dengan tanda tanya, aku bingung , apa sebenarnya
yang ingin bapak ini tunjukkan padaku, hingga pada akhirnya bapak ini berhenti
di depan sebuah rumah tua yang sepi, rumah ini agak terpisah dari rumah-rumah lainnya,
sebenarnya aku sangat takut karna bapak ini membawaku ke suatu rumah yang sedikit berbeda dari rumah lainnya, kuusahakan
posisiku berdiri dengan si bapak agak jauh, agar apabila ia akan berbuat jahat
padaku aku dapat cepat berlari menghindarinya, setelah lama tidak ada sepatah
kata yang keluar dari kami berdua sepanjang perjalanan tadi , akhirnya si bapak
membuka pembicaraan.
“ini rumah nenek aliya, mari neng kita masuk” kata si
bapak dengan seyumnya yang ramah, saat bapak itu menyebutkan nama nenek aliya,
kakiku langsung bergetar hebat, susah bagiku untuk melangkahkan kakiku,perasaanku
berkecamuk dibuatnya, dengan perlahan
aku masuk ke rumah itu, saat pintu terbuka mataku langsung terasa berat, air
mata ku rasanya sudah memberontak untuk keluar dari mata ini setelah aku
melihat foto-foto yang tersusun rapi di dinding rumah nenek aliya, ku cermati
semua foto itu satu persatu, foto seorang wanita cantik yang jelas terlihat
berumur 60an tengah menggendong dan bermain bersama seorang bayi perempuan, air
mata yang dari tadi kutahan tak mampu lagi untuk kubendung, aku menangis
memeluk salah satu dari foto-foto itu.
Tanpa berfikir panjang, aku segera berlari ke sebuah
ruangan, dan benar saja, ruangan yang tidak pernah berubah dari dulu. Aku terjatuh
tepat di tengah ruangan dan menangis sejadi-jadinya , dengan diiringi tangisku,
aku bangkit dan berjalan menuju sebuah
figura yang sangat besar di ujung
ruangan, ku geser figura itu dan akhirnya , kutemukan semua jawaban atas semua keanehan-keanehan
yang telah aku alami selama ini, yang membuatku sulit untuk mempercayai
hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar